News
Apakah Era Digital Memudahkan Kita Berkarya?
18 December 2019 12:00 AM
733

Selamat datang di “dunia digital”—di abad ke-21, dalam dekade 2010-an ini, juga yang tak lama lagi hadir tiba tahun baru besok. Berbicara dunia digital, tentu tak mungkin kita lepas dari bahasan perkembangan teknologi; terutama dalam bidang informasi. Kehadirannya membawa banyak perubahan terhadap kemaslahatan hidup manusia dan bermasyarakat secara umum dan global. Apapun itu aspeknya; politik, ekonomi, sosial, hingga budaya—semua tak dapat lekang dari dampaknya. Hasilnya? Ketimbang beberapa dekade lalu, peradaban kontemporer hidup dalam skema yang lebih terbuka.

Ya, kita hidup dalam keterbukaan, dan pelaku utamanya adalah perkembangan teknologi yang menciptakan perputaran dan penyebaran informasi yang cepat. Instan, bahkan.

Seni, yang hadir sebagai sebuah bentuk ekspresi atau reaksi dari seorang individu terhadap apa yang terjadi di dalam atau di sekitarnya, tentu menampilkan perubahan yang juga cukup signifikan ketika diangkat bersamaan dengan situasi sekarang. Tak aneh, pelaku seni pun juga masyarakat, dan dampak-dampak perkembangan teknologi serta keterbukaan yang sudah dijabarkan sebelumnya “tumpah” pula ke atasnya. Di permukaan, tak jarang pernyataan bahwa kondisi super-connected macam era sekarang mempermudah proses berkarya. Bisa saja, memang. Tapi bisa saja tidak.

Terlepas dari apapun eranya, seni akan selalu ada dan hidup di dalam manusia. Di era kelam bak dark ages pun seni tetap hadir. Manusia akan terus berekspresi, tak perduli batasan dan limitasi yang ada. Dalam seni, akan selalu ada hasil. Namun di lain tangan,  “hasil akhir” itu subjektif—tak layak dikemas dengan baik atau buruk, terutama terkait peradaban.

Dihadapkan dengan pertanyaan baik atau buruknya kehadiran era digital yang “serba terhubung” dengan seni, maka “bolanya” akan jatuh ke kaki pelaku seni. Hasil akhir yang subjektif menggiring bahasan terhadap apa yang ada di balik karya tersebut sebelum rampung: Prosesnya. Sejujurnya, menyatakan bahwa era digital “memudahkan pelaku seni dalam berkarya” terkesan meringankan kondisi nyata—terkesan memandang sebelah mata. Apapun itu, kompromi selalu dibutuhkan. Akan selalu ada yang perlu disiasati dalam berseni, tak peduli apapun eranya.

Ya, era digital ini menghadirkan perputaran informasi instan. Hasilnya? Referensi menjadi luas dan cepat diakses. Selain itu, wadah juga semakin merentang, siapapun bisa mengunggah karyanya ke dunia maya, dan semua bisa melihatnya. Di satu sisi, seni menjadi lebih inklusif. Di sisi lain, karakter, ciri khas, keunikan, dan hal yang hadir dari “sifat eksklusif” sebelumnya, seperti dilucuti. Menjawab inti pertanyaan, era digital ini menghadirkan ruang dan inspirasi yang lebih luas, tapi orisinalitas terpangkas. Lebih baik? Ya, jelas. Sebelum digitalisasi dan segala macamnya itu, inspirasi eksternal berasal apapun itu yang kita rasakan dan kita lihat dengan mata. Itu terbatas, dan batasannya fisikal. Sekarang? Mau lihat mural di tembok-tembok Barcelona hanya sejauh beberapa ketikan keyboard. Mudah. Tapi apakah ada buruknya juga? Jelas.

Sayangnya, perputaran informasi instan juga memangkas kreativitas. Segala sesuatu bisa langsung terpampang di depan mata kita melalui apapun itu gadget-nya, dan mereka kerap berisikan pesan-pesan tersirat yang bersifat “menyetir”. Lebih seram lagi, kita bisa saja tidak sadar akan hasutannya. Itu, dan kemudahan yang hadir dan memanjakan—memudarkan orisinalitasnya para pelaku seni. Era digital ini, otentisitas dibuat sekarat karena terlalu banyaknya input yang masuk ke dalam seorang pelaku seni jika ia lengah.  Mudahnya, karya segar semakin minim di era sekarang.

Quote kenamaan “Good artist borrow, great artist steals,” mungkin berkata sebaliknya. Namun, permasalahan otentisitas dan orisinalitas di era digital tak sesimpel quote tersebut. Jika seniman yang baik adalah seniman yang mencuri, maka ia baru akan menjadi baik ketika ia berhasil lolos saat mencuri. Kalau tidak? Selamat tinggal kredibilitas. Lantas agar tidak terdeteksi, perlu adanya peralihan—harus ada yang diubah. Di sinilah orisinalitas seorang seniman dilibatkan. Namun, tentu keadaan era digital serba bisa (perputaran informasi yang begitu cepat, ruang yang luas, dan lain sebagainya) ini mampu mengubahnya menjadi toxic—berlaku buruk untuk lintasan panjang di depan.

Maka dari itu, pernyataan “bola jatuh di kaki seniman” terasa lebih relevan di era digital ini. Dengan segela kelebihannya, pelaku seni justru cenderung dimanjakan. Menyikapinya? Harus ada kompromi, dan harus pandai menyisasati. Bekal yang pas adalah pemikiran yang kritis dan terbuka; agar kompatibel, tapi tidak melempem. Kalau menurut kamu gimana, guys?

*tulisan merupakan opini pribadi penulis

Sumber foto