News
Leon Barto: Super Art Fest Cukup Penting Jadi Wadah Bagi Seniman Muda
3 October 2019 12:00 AM
1155

Profesi kurator (seni rupa), memang secara resmi belum ada di Indonesia. Dalam konteks seni rupa, istilah ini bisa dibilang cukup baru,” papar Leon Barto—kurator dari Super Art Fest (SAF).

Leon Barto tentu bukan anak kemarin sore di dalam dunia seni. Mulai berkiprah dari kolektif Ruangrupa, terjun ke Gudskul Ekosistem, hingga akhirnya menjadi kurator di Yamaguchi Center for Arts and Media di Yamaguchi, Jepang, dan tentunya masih banyak lagi; maka aman dikatakan bahwa pengalaman dan jam terbangnya dapat—dengan sendirinya—menjadi statement penjelas yang kuat atas ditunjuknya seorang Leon Barto menjadi head curator kita.

Dalam kesempatan kali ini, kamipun menanyakan beliau sejumlah pertanyaan yang mungkin dapat membantu memberikan gambaran tentang seorang Leon Barto. Tidak hanya itu, kami juga menanyakan beberapa hal menarik seperti kondisi dan iklim seni Indonesia, rasanya menjadi seorang kurator, sepak terjang seniman muda, keteririsannya dengan Super Art Fest, dan tentunya masih banyak lagi. Penasaran? Langsung scroll ke bawah dan baca kelengkapannya, ya!

***

SAF:    Sejak kapan tertarik sama dunia seni?

LB:       Tidak ada waktu yang spesifik seingat saya. Mungkin karena terbiasa menonton anime waktu kecil, membuat saya lebih sering terpapar Bahasa Visual. Kemudian, berkenalan dengan dunia teater sewaktu SMA juga memberikan nuansa yang berbeda untuk saya dalam memahami kesenian. Kesempatan untuk bekerja dalam banyak disiplin seni mungkin yang membuat saya menjadi tertarik untuk secara serius bekerja dalam dunia seni.

SAF:    Apa yang bikin Anda berminat untuk menggeluti dunia seni?

LB:       Saya rasa, ada banyak ruang untuk belajar dari kesalahan di dalam praktik kesenian. Karena saya bukan tipe orang yang bisa serius (konsisten) bekerja pada satu bidang, berpindah-pindah medium menjadi salah satu hal yang menarik untuk saya. Eksperimentasi terhadap kemungkinan untuk bekerja sama dengan disiplin lain di luar seni juga menjadi salah satu hal yang memperkuat minat saya.

SAF:    Terus sejak kapan Anda tertarik menjadi kurator?

LB:       Jangankan tertarik, saya tidak pernah membayangkan akan (dianggap) menjadi kurator. Saya rasa, karena pada awalnya saya lebih tertarik untuk menulis ulasan tentang pameran, lama-kelamaan, banyak orang merasa bahwa saya telah mengambil peran kurator. Tapi kemudian, pelan-pelan saya belajar sambil bekerja bersama teman-teman di ruangrupa, bahwa bekerja sebagai kurator bukan hanya tentang menulis, tapi masih banyak elemen lain: menyusun konsep, melakukan pekerjaan administratif (termasuk belajar menggunakan excel), belajar tentang ruang, dan masih banyak yang lainnya. Hal-hal inilah yang kemudian membuat saya menjadi tertarik akan kerja kuratorial.

SAF:    Mungkin banyak yang belum paham apa peran kurator dalam sebuah pameran/event. Bisa dijelaskan?

LB:       Profesi kurator (seni rupa), secara resmi memang belum ada di Indonesia. Kita lebih dahulu mengenal profesi kurator dalam dunia hukum administrasi. Dalam konteks seni rupa, istilah ini bisa dibilang cukup baru. Mungkin baru mulai dibicarakan/diperlukan pada awal 1990-an. Secara sederhana, kurator adalah orang yang bertanggung jawab untuk menangani sebuah pameran/koleksi benda seni dan budaya, menyusun narasi pameran, mengurus keperluan seniman/produksi, membuat katalog, serta membuat presentasi (yang kita kenal sebagai pameran). Dalam perkembangannya, kurator juga dipadankan dengan penyeleksi/programmer. Hal ini acapkali kita temukan dalam program pemutaran film atau festival musik.

SAF:    Apa senang dan susahnya jadi kurator?

LB:       Bagi saya pribadi, tidak ada susahnya—bukan dalam pengertian pekerjaan ini gampang dilakukan—melainkan banyak tantangan yang justru menjadi pengetahuan baru dalam setiap pameran yang dilakukan. Berkesempatan berbincang dengan seniman, menemukan narasi baru karya seni untuk dihadirkan ke publik, dsb.

SAF:    Selain menjadi kurator, apa kesibukan lain seorang Leon Barto?

LB:       Dulu saya sembari mengajar di Insitut Kesenian Jakarta, dan juga bergiat di Gudskul Ekosistem. Namun saat ini saya pindah ke Yamaguchi, Jepang, dan bekerja sebagai kurator di sini selama beberapa tahun.

SAF:    Bagaimana iklim kancah seni di Indonesia saat ini?

LB:       Secara umum, iklim seni rupa Indonesia berada dalam kondisi yang baik. ruangrupa baru saja terpilih menjadi direktur artistik Documenta, kemudian Jakarta, Yogyakarta, dan Bali baru saja menghelat gelaran art fair yang mengundang public internasional. Kesempatan untuk seniman muda untuk berpameran juga lebih banyak dan lebih transparan. Ada banyak biennale dan festival yang dilangsungkan di beberapa kota di luar Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

SAF:    Kenapa tertarik menjadi kurator di Super Art Fest?

LB:       Ketika pertama kali ditawarkan, saya merasa Super Art Fest punya arah yang spesifik—pada seni-seni popular—yang sudah sangat banyak pelakunya. Saya tertarik karena ingin melihat sejauh mana perkembangan medium-medium popular semacam komik strip, graffiti, ilustrasi, dan custom art.

SAF:    Apa komentar Anda saat melihat karya-karya finalis?

LB:       Kaget! Ada banyak sekali karya yang masuk dan dengan kualitas yang baik. Saya rasa, teman-teman juri yang lain juga merasa kaget dan sulit untuk menentukan siapa-siapa saja yang bisa lolos ke tahap selanjutnya.

SAF:    Seberapa pentingkah sebuah festival seni itu? Apalagi bagi anak muda.

LB:       Festival seni atau apapun acara seni lainnya, selalu penting untuk diadakan terutama untuk memberikan wadah bagi anak (seniman) muda yang ingin menampilkan keahlian dan karyanya. Festival yang baik tidak hanya memandang angka peserta/pengunjung, melainkan juga memperhatikan kualitas, dan sebaran pengetahuan yang bisa dihadirkan untuk meningkatkan perkembangan ekosistem seni rupa di Indonesia. Festival juga perlu dilihat sebagai kesempatan untuk membangun jejaring di antara peserta.

SAF:    Bagaimana Anda memandang Super Art Fest?

LB:       Seperti yang sudah pernah saya sampaikan sebelumnya. Super Art Fest menjadi cukup penting untuk menjadi wadah bagi seniman muda yang bekerja dengan menggunakan medium-medium popular semacam di atas—atau bagi mereka yang merasa “belum seniman” namun punya ketertarikan terhadap dunia visual.

SAF:    Pesan untuk seniman muda di Indonesia?

LB:       Haha, wah! Tidak ada pesan apa-apa. Kerjakan dan nikmati saja hidup ini!

***

Sekian sesi tanya jawab Super Art Fest dengan kurator kami, Leon Barto. Dengan dilangsungkannya sesi ini, besar harapakan kami untuk dapat menerangkan—secara jelas dan kredibel—spektrum bahasan kami (dalam seni, terutama) melalui salah satu sosok yang memang memiliki andil besar dalam keberlangsungan Super Art Fest, juga dalam pergerakan seni Indonesia.

Rangkaian acara Super Art Fest akan segera mencapai titik puncaknya. Pantau terus apa yang akan kami tawarkan melalui media sosial dan situs resmi kami agar tidak kelewatan keseruannya, ya!

*Foto: Panji Purnama Putra