News
Ngobrol Bareng Dae Buton, Juara Kategori Street Art
4 March 2020 12:00 AM
361

“Idealis”, “Unik”, dan “Doktrin”—kurang lebih begitulah representasi diksi dari karya-karya Dae Buton, pemenang kompetisi Super Art Fest dari kategori Street Art. Berbicara dengannya, kamipun menggali cukup dalam seputar sosoknya sebagai seorang seniman, pengalaman mengikuti Super Art Fest, dan tentunya, perisapannya berangkat ke Art Busan.

Merekam jejak, kami bertanya bagaimana awal mula ia mulai menyelami dunia seni. “Sejak kecil sudah suka gambar, ketika SD juga pernah menjuarai lomba seni lukis di daerah Kota Baubau. Sejak itulah saya mulai benar-benar suka menggambar dan terus meng-upgrade skill menggambar saya sampai sekarang,” tuturnya. Dae sendiri mulai terjun dan menggeluti dunia Street Art di tahun 2009, pertama kali ia memulai pendidikan seni rupa di kampus kesenian kota Jakarta.

“Saya mulai terjun ke dalam kegiatan Mural sejak tahun 2009, saat itu saya mural masih menggunakan kuas dan cat tembok. Khusus Graffiti, saya mulai mengenal dunia graffiti dari teman saya sesama pegiat graffiti di tahun 2015. Sejak saat itu saya mulai tertarik belajar menggunakan cans, aerosol, atau spray paint,” terangnya.

Lingkungan hidup tentu menjadi pengaruh besar dalam perkembangan seni seorang seniman. Dae Buton pun begitu; ia menjelaskan, “Saya mulai mendalami seni ketika menempuh pendidikan seni rupa di salah satu universitas seni Yogyakarta di tahun 2008. Hanya bertahan satu tahun sebelum akhirnya pindah ke Jakarta dan kuliah di sana.”

“Sebelum itu hanya menggambar secara otodidak. Sejak SMA juga saya sudah aktif berkesenian seperti mengerjakan komik untuk buku tahunan sekolah dan membuat ilustrasi untuk kebutuhan ekskul. Orang tua saya tidak membatasi keinginan saya, mereka support dengan memberikan fasilitas dan biaya sekolah,” sambungnya,

Namun tidak pernah ada yang sempurna di dunia ini, sama jadinya dengan lingkungan berseni. Kami menanyakan kepada Dae, apa menurutnya yang menjadi kendala terbesar bagi seorang seniman di Indonesia. Menjawab pertanyaan itu, ia menyatakan bahwa unsur akses-lah yang menjadi salah satu titik permasalahan terbesar.

“Mungkin kurang akses untuk membuat karya-karya besar seperti membuat mural raksasa misalanya, mural gedung dan lainnya. Fasilitas penunjang untuk membuat karya street art, seperti skissor lift, mobil crane, dan lain sebagainya itu masih sangat mahal. Kebanyakan kita masih menggunakan scaffoliding atau stager kayu sehingga karya yang kita hasilkan kurang maksimal,” pangkasnya.

Di luar itu, adapula permasalahan “getting it out”—kendala yang biasa dirasakan oleh mereka yang baru berkecimpung ke dalam dunia street art, ataupun seni dalam cakupan luasnya. “Buat pendatang baru kaya kita juga kurang paham bagaimana caranya jalan karya.”

Tembus sebagai juara kategori Street Art di Super Art Fest, street artist yang mengidolakan Smug One, Tristan Eaton, dan Shepard Fairey ini mengaku mendapatkan pelajaran baru dari rangkaian kompetisi ini. Super Art Fest membantunya belajar mengenal karakter karya dan seniman yang ada di balik karya-karya itu. Lebih pentingnya, ia juga menjadi lebih terbuka dengan yang lain. “Belajar untuk mengenal kelebihan dan kekurangan diri kita sendiri,” katanya.

Karya Dae Buton, "Statis Kui Asu"

Setelahnya, Ia juga menjelaskan kesan yang ia rasakan setelah ikut berkompetisi dalam rangkaian acara Super Art Fest ini, “(Super Art Fest) melebih ekspektasi peserta. Mungkin karena pengisi acaranya Awarding Night-nya yang keren-keren! Penyelenggara dan panitianya juga sangat profesional, fasilitasnya pun lebih mewah dibandung acara lain yang pernah saya ikuti. Super Art Fest juga lebih support untuk kemajuan seniman. Semoga kedepan bisa dipertahankan, bahkan bisa lebih meriah dari tahun ini!”

“Mas Tutu (juri Street Art) dan para juri kategori lain, serta kurator mas Leon Barto juga sangat terbuka dan mampu memberi wawasan baru. Panitia juga sangat profesional dalam meng-handle peserta dan para finalis,” sambungnya berpesan kepada para juri, kurator, dan panitia.

Dae Buton juga mengaku bahwa sesi interview dalam penilaian kompetisi Super Art Fest juga menjadi momen yang menarik. Begitu jadinya karena di kala itu, pembahasan tidak hanya membahas karya namun juga membuka ruang sharing yang personal dan mendalam. “Kita punya kesempatan membuka diri dan lebih di kenal secara personal,” tuturnya.

Saat ditunjuk sebagai juara dari kategori Street Art, Dae Buton mengaku, “Deg-degan, karena kaget dan agak kurang pede.” Sebagai seorang introvert di dunia extrovert, itu wajar. “Pergaulan saya di skena street art indonesia masih baru. Bisa juara satu pula. Jadi agak kaget, tapi saya sangat berterima kasih dan bersyukur dengan profesionalitas para juri.”

Dae juga berpesan kepada seluruh kawan “seperjuangan”-nya di Super Art Fest, menyatakan bahwa semua peserta Custom Sneaker dan Street Art merupakan orang-orang skillful dan seniman yang memiliki karakter yang kuat. “Saya salut sama mereka karena tidak mudah bikin karyanya.” Untuk kategori Ilustrasi dan Comic Strip, “mereka adalah orang-orang yang sangat unik dan colorful!”

Seperti yang sudah diumumkan, para pemenang Super Art Fest pun akan diberangkatkan ke luar negeri, tepatnya ke Korea untuk menghadiri Art Busan. Kamipun menyempatkan bertanya seputar persiapan Dae Buton untuk berangkat ke pagelaran seni tersebut.

“Saya baru tau Art Busan dari profil IG-nya, mungkin mirip Art Stage atau Bazaar Art Jakarta, kali ya? Semoga banyak hal positif dari acara itu. Untuk persiapannya, Saya lebih ingin tahu karya-karyanya, isu-isu yang mereka angkat, seberapa besar support ke para senimannya, dan hal-hal unik yang tidak  bisa temuka di sana,” tutupnya.

Selamat kepada Dae Buton selaku Juara 1 Kategori Street Art dari Super Art Fest! Sukses terus, dan selalu berkarya, ya! Pantau terus website dan medsos kami karena kami masih akan menampilkan wawancara-wawancara dengan para pemenang dari kategori lain; seperti Comic Strip, Custom Sneaker, dan Ilustrasi!