News
Ngobrol Bareng Yahya Silaban, Juara Kategori Comic Strip
6 March 2020 12:00 AM
172

Comic Strip adalah salah satu dari empat kategori yang turut serta diperlombakan dalam kompetisi Super Art Fest, dan melaluinya, hadirlah Yahya Silaban sebagai juara satu. Atas itu, kami pun menyempatkan bertanya-tanya dengannya, membahas apapun itu dari seniman favorit, pengalaman mengikuti hingga berhasil menggaet predikat juara di Super Art Fest, dan rekam jejaknya sebagai seorang seniman aktif. Lengkapnya, simak di bawah ini, ya!

“Kenikmatan menggores pensil dan menggambar sudah ada sejak kecil, tapi mulai semakin serius ketika di bangku SMA iseng-iseng membuat sketsa seperti graffiti dan gambar-gambar lain di buku tulis,” ujar Yahya, ketika ditanya awal mulanya bisa terjun ke dalam dunia persenian. “Lalu banyak kawan-kawan pun langsung menyarankan saya untuk masuk jurusan DKV, dan sejak itu apa yang saya lakukan terus menerus adalah menggambar.”

Memenangkan kategori comic strip, Yahya mengaku mulai serius dengan pakem seni tersebut kala menapak masuk ke tahun 2018 silam. Ia menyatakan bahwa, “pada tahun 2018, saya memulai mencoba membuat komik. Sebelumnya saya lebih sering membuat ilustrasi, namun saat itu ada dorongan yang besar untuk membuat gambar yang tidak hanya sekedar bagus namun juga orang bisa menikmatinya secara lebih lagi.”

Tentu peralihannya itu terbukti baik; bermuara darinya, Yahya mampu memperluas cakupan kreatifnya hingga menjuarai kategori comic strip, menjadikannya sebuah transisi yang terbukti subur dan tepat daya.

Lanjut membahas kondisi dan keadaan seni di Indonesia, kami bertanya kepada Yahya, apa menurutnya yang menjadi kendala terbesar sebagai seorang seniman di Indonesia. Menjawabnya, ia lebih memilih untuk menilik apa yang ada di dalam diri—lebih condong ke ranah pribadi sang seniman.

“Menurut saya kendala terbesar seorang seniman saat ini adalah ketika ego dalam berkarya itu terlalu tinggi. Untuk saya ego memang perlu, tetapi mendengarkan pendapat juga perlu. Agar karya yang kita hasilkan tidak sekedar ‘asik sendiri’ tapi juga mampu masuk ke perasaan orang,” terangnya menjelaskan.

Mengekor dari jawaban itu, pertanyaan pun dilanjut ke lingkungan pribadinya. Mengingat lingkungan seorang seniman turut ambil peran besar dalam membentuk karakter seni, kami turut menggali bagaimana peran lingkungan Yahya turut membentuk proses kreatifnya. Untuk itu, ia menjawab, “Dari lingkungan keluarga selalu erat akan nasehat-nasehat tentang kehidupan, dan lingkungan sekeliling juga menjadi inspirasi cerita sehingga mengasah diri saya menjadi pribadi yang mau mendengar dan mudah untuk mengerti perasaan orang.”

“Begitupun lingkungan komunitas gambar yang menjadi referensi dalam menemukan gaya gambar yang cocok untuk saya,” papar sang juara yang juga mengidolakan Emte, Sarkodit, Kathrin Honesta, Geme Semesta, hingga Jamie Hewlett dan Gerhard Human itu.

Yang juga menjadi titik penting dalam perjalanan seni seorang Yahya Nathanael Silaban ini, selain menjuarai Super Art Fest, adalah menghadiri salah satu artist talk dari seniman favoritnya. “Dia menceritakan tentang bagaimana dia mencapai gaya gambar abstrak yang bagus, dan kuncinya adalah ketika kita berdamai dengan kekurangan diri maka kita akan mencari tahu kelebihan kita di mana—dan akhirnya bisa mencapai kemampuan kita yang maksimal,” ujarnya. Nampaknya, petuah itu dia pegang teguh dalam berkarya.

Lanjut membahas Super Art Fest, Yahya pun berkesan senang mengikuti rangkaian acaranya, mendapatkan banyak kenalan seniman lain. “Menarik, karena bisa berkenalan dengan seniman lain yang hak hanya dari komik, tapi kategori lainnya juga. Pesan saja semoga jalan dari SAF bisa berlangsung lama agar seniman lain yang belum diketahui secara umum bisa mulai bermunculan.”

JANGAN TAKUT, karya Yahya Silaban

“Perasaan ketika memenangkan SAF tentu saja gak nyangka bisa menang di kategori komik, karena masing-masing peserta juga memiliki skill yang gak main-main!” paparnya menjelaskan perasaan saat ditunjuk sebagai juara 1 kategori comic strip.

Kamipun lanjut menanyakan pendapatnya seputar rekan sejawatnya di Super Art Fest, dan juga para juri, kurator, serta panitia yang bertugas sepanjang rangkaian acara. Ia berkata, “Pastinya sangat takjub dengan finalis lain karena komik-komik yang mereka buat benar-benar beda dari komik seperti biasanya. Bener-bener eksploratif dan menghadirkan warna yang baru.”

Untuk para juri, kurator, dan panitia; Yahya berpesan, “Penyelenggara sangat bertanggung jawab dalam mendampingi peserta-pesertanya; sedangkan Juri dan Kurator juga mampu bekerja sama dalam memilah karya untuk masuk SAF.”

Yahya, menyatakan bahwa karya-karyanya dapat dirangkum menjadi sebuah “Nostalgia”, “Perenungan”, dan “Kehidupan” ini menjelaskan bahwa salah satu hal paling memorable selama mengikuti rangkaian Super Art Fest adalah sesi workshop-nya.

“Saat itu, SAF mengadakan rangkaian acara yaitu workshop komik oleh Sanchia Hamidjaja, dan saya ikut agar bisa belajar tentang komik dan cara membuatnya, Tapi yang gak disangka, saya ikut submit kemudian masuk jadi finalis, dan juara kategori komik hehe..,” ujarnya menutup wawancara ini.

Selamat kepada Yahya Nathanel Silaban selaku pemenang Super Art Fest Kategori Comic Strip! Berkaryalah terus, dan sukses selalu! Buat kalian, Jangan kemana-mana dulu, karena masih ada satu wawancara terakhir dengan pemenang kategori Custom Sneaker, Yanuar Indra!